Senin, 04 Juni 2012

cerita inspiratif/kkpk/cerita remaja/cerpen/hot story

BUDAYA NYONTEK DAN KORUPTOR MASA DEPAN 

 (aku bukan calon koruptor) 

by Ali M. Syuryanto

June 5, 2012

“Menyontek atau kerjasama saat ujian berlangsung adalah BIBIT KORUPSI. Indonesia akan MAJU kalau KAMU tidak MELAKUKANNYA.”

      Memberikan ujian kepada siswa kemudian tugas mengawasi berlangsungnya ujian adalah dua kegiatan yang senantiasa dilakukan oleh guru sepanjang tahun. Tak dapat dipungkiri bahwa tugas tersebut senantiasa berulang dari waktu ke waktu, dari kelas yang satu ke kelas yang lainnya. Dari tingkatan kelas teredah sampai yang teratas.
Oleh karena itu sebagai guru kita sudah sangat hapal bagaimana sikap dan gaya siswa ketika ujian berlangsung. Dalam setiap ujian, dalam ruang ujian selalu saja ada berbagai macam gaya siswa ketika berlangsungnya ujian. Ada yang memang sudah siap dengan ujian, tapi ada juga yang sebaliknya. Tipe kedua inilah yang paling unik untuk diamati. Sebelum ujian berlangsung, biasanya mereka membaca siapa pengawas ruang mereka. Kadangkala ada yang hopeless setelah melihat yang akan mengawasi mereka adalah guru si A yang menurut pengalaman mereka sangat ketat dalam mengawasi mereka. Atau sebaliknya, mereka tersenyum gembira atau tanpa sadar berteriak “asyik….yang ngawasi guru si B” yang mungkin menurut mereka cukup longgar dan membantu mereka untuk “leluasa menyontek” saat ujian berlangsung. Gaya mengawas guru memunculkan istilah baru dalam pandangan siswa, terutama saat ujian berlangsung ada pengawas favourit dan jahat atau ketat.
     Karena alasan itulah ketika penulis jadi panitia ujian saya sengaja memasang jadwal ujian tanpa menyantumkan nama pengawas ruang. Ini karena saya tidak ingin ada istilah di kalangan siswa pengawas favorit alias disukai dan tidak favorit alias dibenci. Atau saya tidak menghendaki ada saat dimana siswa merasa tidak perlu belajar dengan rajin karena sudah paham bahwa yang mengawas besok adalah bapak atau ibu C yang lumayan longgar dalam mengawasi ujian atau sebaliknya. Suatu ketika sebelum ujian semester berlangsung saya menulis sebuah ungkapan di papan tulis “NYONTEK adalah BIBIT KORUPSI. INDONESIA akan MAJU kalau kalian JUJUR dalam UJIAN” sebelum ujian berlangsung. Atau berikutnya dikelas lain saya menulis “NYONTEK = KORUPSI”. Dengan sedikit komentar saya melanjutkan bahwa jika kalian suka menyontek atau membenarkan kegiatan menyontek maka anda mungkin calon koruptor masa depan. Mungkin tidak terlalu berhasil, karena secara sembunyi-sembunyi mereka masih melakukannya. Buktinya masih menemukan mereka membuka coretan kertas saat mereka tertangkap basah sedang menyontek. tapi paling tidak saya ingin mengatakan pada mereka bahwa korupsi bukan hanya melulu berhubungan dengan uang sebagai mana yang sedang ramai diberitakan di televise. Sehingga ada yang nyeletuk, “bagus tuh pak, jadi headline di mading sekolah”. Yang tertangkap basah saat menyontekpun, mungkin karena sudah terbiasa menyontek, dengan wajah polos dia tersenyum tanpa dosa. Bahkan yang duduk di deretan depanpun tidak malu-malu melakukannya. Atas dalih demi tidak kena remedial atau tadi malam tidak sempat belajar karena ada bola atau demi membantu orang tua biar cepat lulus dan tidak tinggal kelas. Ckckck… apakah ini kemudian merupakan pembenaran untuk menghalalkan menyontek.                   
     Pengalaman yang tidak menyenangkan dari penulis adalah saat masih mahasiswa penulis mengawas di sebuah SMK swasta di Surabaya. Setelah keluar dari ruang pengawas mereka mengikuti saya. Mereka marah dan mengumpat- ngumpat kepadaku hanya karena saat ujian berlangsung saya sangat ketat dalam mengawai mereka sehingga mereka tidak sempat menyoktek.
       Barangkali saya perlu menyitir sebuah hadist yang diriwatkan oleh Bukhari dan Muslim” Beribadahlah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka, jika engkau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu”. Bro hadist diatas berasal dari Rosulullah teladan ummat. Ingat ya, bahwa menuntut ilmu adalah ibadah. Maka ujianpun adalah rangkaian dari ibadah. So masa ibadah mau dikorupsi juga. Bukannya kita paham bahwa Allah maha melihat apa yang manusia lakukan. Boleh saja antum nyontek, tapi apa halal nilai yang kita dapat. Jangan-jangan nilai yang nantinya antum dapat malah jadi tidak barakah dan ilmu yang antum pelajari tidak bias antum amalkan di masa sepan. Naudzubillah.
      Sayapun ingin menyelipkan kisah tentang kejujuran seorang gadis penjual susu, yang pernah ditulis oleh Sholihin Abu Izzudin (2009:191) dalam bukunya The great Power of Mother. Suatu malam ketika Umar bin Khattab r.a. melakukan inspeksi kepada rakyat, ia mendengar percakapan antara seorang anak dengan ibunya.
     Saat itu sang ibu mengatakan, “berdirilah, ambil air dan campurkanlah dalam susu!”
     “Tidak wahai ibu, tidakkah ibu mendengar bahwa Amirul mukminin melarang mencampur susu dengan air?”
     Sang ibu pun berkata. “Sesungguhnya Amirul mukminin tidak melihat kita!”
     Maka putrinya dengan penuh keheranan mengatakan, “Subhanallah! Jika Amirul mukminin tidak melihat kita, bukankah Tuhannya Amirul mukminin melihat kita!”
     Bro, apa antum sudah bias mengambil pelajaran dari gadis penjual susu di atas. Intinya bahwa dalam menmpuh ujian, karena ini adalah ujian maka harusnya kita juga harus merasa bahwa pandangan Allah tidak akan pernah lepas dari kita kapanpun dan dimanapun. Gadis penjual susu saja bias jujur pada profesinya, apalagi antum yang calon intelektual. Mau jadi calon intelektual, ya harus JUJUR.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar